Puasa Ramadhan, momen sakral yang dinanti umat Muslim di seluruh dunia, selalu membawa atmosfer spiritual yang mendalam. Di Indonesia, penentuan awal Ramadhan seringkali menjadi topik hangat, terutama dengan adanya perbedaan metode penetapan antara organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan ini bukan hal baru, melainkan cerminan kekayaan khazanah keilmuan Islam dalam memahami syariat.

Menjelang Ramadhan 2026, pertanyaan seputar kapan tepatnya awal puasa akan jatuh kembali mengemuka. Mari kita selami lebih dalam bagaimana kedua organisasi ini menentukan awal bulan suci, serta perkiraan jadwal yang bisa jadi panduan awal bagi persiapan ibadah.

Memahami Metode Penetapan Awal Ramadhan

Penentuan awal bulan Hijriyah, termasuk Ramadhan, didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Namun, interpretasi dan metode pengamatan yang digunakan bisa berbeda, menghasilkan potensi perbedaan dalam penetapan tanggal.

Hisab Hakiki Wujudul Hilal: Pendekatan Muhammadiyah

Muhammadiyah dikenal menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini mengandalkan perhitungan astronomi yang cermat untuk menentukan posisi bulan. Kriteria wujudul hilal terpenuhi jika:

  • Telah terjadi ijtimak (konjungsi) sebelum matahari terbenam.
  • Bulan terbenam setelah matahari terbenam.
  • Pada saat matahari terbenam, hilal (bulan sabit muda) sudah wujud di atas ufuk.

Dengan kata lain, jika ketiga syarat ini terpenuhi, maka malam itu sudah dianggap masuk bulan baru, dan keesokan harinya adalah awal puasa. Metode ini memberikan kepastian tanggal jauh-jauh hari karena didasarkan pada perhitungan matematis yang presisi.

Baca Juga:  Pemerintah Luncurkan Internet Rakyat 100 Mbps Unlimited Hanya Rp100 Ribu, Begini Cara Daftarnya

Rukyatul Hilal dan Hisab Imkanur Rukyat: Pendekatan NU

Nahdlatul Ulama (NU) menggabungkan dua metode utama: rukyatul hilal dan hisab imkanur rukyat.

  • Rukyatul Hilal: Ini adalah metode pengamatan langsung hilal setelah matahari terbenam. Jika hilal terlihat, maka malam itu dianggap awal bulan baru. Pengamatan dilakukan di berbagai titik di Indonesia oleh tim yang ditunjuk.
  • Hisab Imkanur Rukyat: Metode hisab ini digunakan sebagai panduan awal dan kriteria minimal untuk rukyat. Imkanur rukyat berarti "kemungkinan terlihatnya hilal". Kriteria yang umum digunakan di Indonesia adalah hilal harus memiliki tinggi minimal 2-3 derajat dan elongasi (jarak sudut antara bulan dan matahari) minimal 3-4 derajat agar dianggap memenuhi syarat untuk bisa dirukyat.

Jika hilal tidak terlihat meskipun hisab menunjukkan kemungkinan terlihat, atau jika hisab menunjukkan hilal di bawah kriteria imkanur rukyat, maka bulan sebelumnya (Sya’ban) digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Perkiraan Jadwal Puasa Ramadhan 2026

Dengan memahami perbedaan metode di atas, kita bisa mulai memperkirakan kapan Ramadhan 2026 akan tiba. Penting untuk diingat bahwa ini adalah perkiraan awal berdasarkan perhitungan hisab, dan penetapan resmi biasanya dilakukan mendekati hari-H melalui sidang isbat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Perkiraan Awal Ramadhan 2026 Versi Muhammadiyah

Berdasarkan perhitungan hisab hakiki wujudul hilal, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah merilis maklumat terkait penetapan awal Ramadhan 1447 H.

  • 1. Ijtimak (Konjungsi): Ijtimak jelang Ramadhan 1447 H diperkirakan terjadi pada hari Kamis, 19 Februari 2026 M.
  • 2. Posisi Hilal: Pada saat matahari terbenam di tanggal tersebut, hilal diperkirakan sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
  • 3. Awal Ramadhan: Dengan demikian, 1 Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada hari Jumat, 20 Februari 2026 M.
Baca Juga:  Cara Daftar Kartu Prakerja Gelombang Terbaru 2026 Agar Lolos Seleksi

Ini berarti, shalat Tarawih pertama akan dilaksanakan pada Kamis malam, 19 Februari 2026.

Perkiraan Awal Ramadhan 2026 Versi Nahdlatul Ulama (NU)

Untuk NU, penetapan resmi akan menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan pada sore hari menjelang 1 Ramadhan. Namun, berdasarkan perhitungan hisab imkanur rukyat, kita bisa mendapatkan gambaran awal.

  • 1. Ijtimak (Konjungsi): Sama seperti Muhammadiyah, ijtimak diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Februari 2026 M.
  • 2. Posisi Hilal (Imkanur Rukyat): Pada saat matahari terbenam tanggal 19 Februari 2026, posisi hilal diperkirakan sudah memenuhi kriteria imkanur rukyat yang disepakati, yaitu tinggi hilal di atas 3 derajat dan elongasi yang memadai.
  • 3. Awal Ramadhan: Jika hilal berhasil terlihat (dirukyat) pada Kamis sore, 19 Februari 2026, maka 1 Ramadhan 1447 H akan jatuh pada hari Jumat, 20 Februari 2026 M.

Jika hilal tidak terlihat atau tidak memenuhi kriteria imkanur rukyat, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Ramadhan akan jatuh pada Sabtu, 21 Februari 2026 M. Namun, dengan perkiraan posisi hilal yang sudah cukup tinggi, kemungkinan besar akan jatuh pada tanggal yang sama dengan Muhammadiyah.

Ringkasan Perkiraan Jadwal

Berikut adalah tabel perkiraan jadwal puasa Ramadhan 2026:

Organisasi Metode Penetapan Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H Keterangan